Taukah anda apa itu Media ???????................... Yuk kita lihat :)
Media elektronik memperluas persepsi orang melampaui batas-batas tempat dimana mereka berada pada setiap saat sehingga menciptakan 'desa global' (global village). Pada saat bersamaan, sebagaimana media cetak, media elekronik mampu menyimpan informasi, dan karena sifatnya yang lebih cepat tersedia maka media elektronik dapat menciptakan 'ledakan informasi' (information explosion). Selain itu, terjadi persaingan diantara media memperebutkan perhatian audien agar melihat dan mendengar media tertentu. Informasi yang disampaikan media elektronik memiliki harga dan nilai komersial sehingga dijual seperti komoditi yang menciptakan tekanan bagi pemberi informasi untuk membuat informasi yang mampu menarik perhatian. Pengetahuan pada era elektronik berubah dengan sangat cepat, dan orang menjadi sadar terhadap berbagai versi kebenaran yang berbeda. Perubahan pengetahuan terus menerus yang diciptakan media elektronik membuat orang bingung dan tidak tenang.
Media elektronik memperluas persepsi orang melampaui batas-batas tempat dimana mereka berada pada setiap saat sehingga menciptakan 'desa global' (global village). Pada saat bersamaan, sebagaimana media cetak, media elekronik mampu menyimpan informasi, dan karena sifatnya yang lebih cepat tersedia maka media elektronik dapat menciptakan 'ledakan informasi' (information explosion). Selain itu, terjadi persaingan diantara media memperebutkan perhatian audien agar melihat dan mendengar media tertentu. Informasi yang disampaikan media elektronik memiliki harga dan nilai komersial sehingga dijual seperti komoditi yang menciptakan tekanan bagi pemberi informasi untuk membuat informasi yang mampu menarik perhatian. Pengetahuan pada era elektronik berubah dengan sangat cepat, dan orang menjadi sadar terhadap berbagai versi kebenaran yang berbeda. Perubahan pengetahuan terus menerus yang diciptakan media elektronik membuat orang bingung dan tidak tenang.
Jika pada era cetak,
buku menjadi sumber informasi penting, maka pada era elektronik yang terjadi
adalah desentralisasi informasi dimana individu sekarang telah menjadi salah
satu sumber informasi utama. Media Internet yang menyediakan fasilitas seperti
blog atau sarana jejaring sosial (Friendster, Facebook dll) yang isinya
dikembangan oleh individu pengguna Internet itu sendiri (self-generated content) telah menjadikan individu sebagai sumber
informasi utama. Hal ini mungkin tidak terbanyakan oleh kebanyakan orang pada tahun
1960-an, era ketika McLuhan pertama kali mengemukakan gagasannya mengenai hal
ini.
Era elektronik telah membawa orang kembali bergantung pada cara ”berbicara”
(talking) satu dengan lainnya
sebagaimana era primitif. Namun dewasa ini kita mendefinisikan ”berbicara” secara berbeda dengan
pengertiannya pada era kesukuan. Menurut McLuhan, pada era elektronik, orang berbicara
melalui televisi, radio, kaset rekaman, gambar foto, mesin penjawab, telepon,
blog dan e-mail.
Jika era lisan menciptakan budaya komunitas, era tulisan menciptakan budaya
kelas maka era elektronik menciptakan 'budaya sel' (culture of cells) yaitu adanya berbagai kelompok yang saling
bersaing satu sama lain untuk membela kepentingannya. Pada era ini muncul jenis
masyarakat atau publik yang tidak terikat dengan tempat. Muncul politik
kepentingan namun muncul juga nilai-nilai demokrasi yang mengutamakan hak-hak
masyarakat sipil khususnya upaya untuk mengelola perbedaan. Namun ironisnya,
persaingan dan semangat ekonomi berbasiskan komoditi yang mengiringi
perkembangan media elektronik harus bertempur dengan nilai-nilai lain yang
muncul yaitu kesetaraan atau persamaan hak dan kepedulian terhadap sesama (civility and collegiality). Jadi, era
elektronik menciptakan paradoks antara pemisahan karena adanya berbagai
kelompok berbeda yang saling bersaing dengan kepentingan nilai-nilai demokrasi
yang tercermin dalam prinsip kesetaraan dan kepedulian.
Era elektronik
memungkinkan berbagai komunitas berbeda di dunia saling terhubung atau dapat
berhubungan satu dengan lainnya yang kemudian menjadi konsep dari ’desa global’
(global village). Kehadiran teknologi
elektronik telah menghilangkan sekat
atau dinding pemisah diantara manusia. McLuhan menggambarkan teknologi
elektronik sbb:
- Telepon : berbicara tanpa dinding
- Fotografi : museum tanpa dinding
- Cahaya : ruang tanpa dinding
- Film, radio dan TV : ruang kelas tanpa dinding
- Phonograph (alat pemutar lagu) : gedung pertunjukan musik tanpa dinding.
Jika seseorang menjadi anggota masyarakat budaya lisan maka perbedaan
diantara individu menjadi sangat kecil, dan keputusan dibuat bersama-sama
berdasarkan nilai-nilai tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Dalam masyarakat dengan budaya tulisan, terlebih budaya cetak, keputusan yang
diambil tergantung pada kebenaran yang tersimpan dalam berbagai dokumen, dan
mereka yang memiliki akses kepada informasi akan memiliki pengaruh besar dalam
masyarakat dan mereka menjadi anggota masyarakat dari kelas pengambil
keputusan. Pada era elektronik, seseorang yang menjadi anggota budaya
elektronik akan mengidentifikasi dirinya dengan satu atau beberapa kelompok
kepentingan yang saling bersaing. Ia mendengar berbagai suara atau pandangan
yang berbeda pada saat bersamaan, dan ia memiliki tantangan untuk mengintegrasikan
berbagai perbedaan itu.
Era elektronik memberikan peluang unik untuk mengevaluasi kembali bagaimana
media memengaruhi masyarakat yang mereka layani. Era ini memungkinkan mata dan
telinga serta suara bekerja secara bersama-sama. Melalui penjelasannya mengenai
empat era atau epoch dalam sejarah media, ingin
menunjukkan bahwa masing-masing era mendorong penggunaan indra tertentu yang
dimiliki manusia, namun McLuhan juga menjelaskan bahwa apa yang dibutuhkan
manusia adalah ‘rasio indra’ (ratio of
the senses) yang merupakan dialektika dari berbagai indra. Manusia
memerlukan rasio indra sebagai cara untuk beradaptasi dengan lingkungannya
melalui keseimbangan indra. Misalnya, melalui Internet kita menggunakan
berbagai indra termasuk indra visual ketika melihat gambar atau indra
pendengaran ketika kita mengunduh lagu.
Media Panas & Dingin
McLuhan membagi
media menjadi dua jenis yaitu 'media panas' (hot media) serta 'media dingin' (cool
media). Media panas adalah media yang
tidak menuntut perhatian besar dari pendengar, pembaca atau penonton (audien)
media bersangkutan. Menurut McLuhan, media panas merupakan komunikasi definisi
tinggi (high-definition communication)
yang menyediakan data sensorik lengkap yang dapat diterima indra manusia; dalam
menggunakan media ini audien tidak dituntut untuk mnggunakan daya imajinasinya,
atau dengan kata lain sangat sedikit sekali daya imajinasi yang dibutuhkan.
Dengan demikian, partisipasi audien dalam media panas sangatlah rendah karena
makna dari informasi yang diterima audien sudah sangat lengkap dan jelas.
Film
adalah salah satu contoh media panas. Ketika seseorang menonton film di
bioskop, misalnya, ia hanya duduk, menonton film bahkan sambil makan atau
minum, tidak ada upaya keras untuk menerima dan memahami informasi dari media
tersebut. Media panas memberikan audien apa yang dibutuhkannya --dalam hal ini,
hiburan.
Media
dingin merupakan media definisi rendah yang membutuhkan partisipasi audien yang
cukup besar, dengan kata lain media dingin merupakan komunikasi definisi rendah
yang menuntut partsipasi aktif dari penonton, pendengar dan pembaca. Tidak
banyak yang dapat diberikan media jenis ini kepada audien, dan audien harus
memenuhi sendiri hal-hal yang tidak disediakan media dingin. Audien harus
menciptakan makna melalui indranya dan secara imaginatif melibatkan dirinya.
Menurut
McLuhan, percakapan tatap muka atau percakapan melalui telepon adalah contoh
media dingin yang menuntut mereka yang terlibat untuk memberikan makna terhadap
suara atau kata-kata yang diucapkan dan juga imajinasi visual ketika
menggunakan media tersebut.
Selain film,
McLuhan menggolongkan radio, buku, foto serta kuliah sebagai media panas
sedangkan televisi, seminar dan film kartun sebagai media dingin. Bagi sebagian
orang pembagian jenis media oleh McLuhan
ini cukup membingungkan, namun justru gagasan ini menjadi bagian penting
dari teori tentang media yang diajukan McLuhan
Pandangan ini
menimbulkan kontroversi di kalangan sarjana. Bagaimana mungkin beberapa media
tersebut, misalnya televisi, digolongan sebagai media dingin, sedangkan radio
dikategorikan sebagai media panas. Namun sebagian kalangan menilai hal ini
disebabkan tingkat teknologi kala itu yang masih rendah. Selain itu, jika
audien aktif menggunakan remote control
ketika menonton televisi maka ia tengah terlibat dengan media dingin. McLuhan
menggolongkan radio sebagai media panas karena kebanyakan orang menggunakan
radio untuk mengiringi aktivitas lain.
Untuk
menjelaskan gagasannya mengenai media panas dan dingin ini, McLuhan mengambil
contoh pada debat calon presiden AS pada tahun 1960 antara John F. Kennedy dan
Richard Nixon. McLuhan menemukan bahwa audien yang menonton debat melalui
televisi akan memenangkan Kennedy karena media tersebut mampu menunjukkan
dengan baik karakter dan pesona yang dimilikinya. Sedangkan audien yang
mengikuti debat melalui radio memenangkan Nixon karena media tersebut mampu
menuntupi kelemahan Nixon yang mudah berkeringat.
Pemikiran McLuhan yang paling
terkenal sekaligus yang paling banyak menimbulkan perdebatan mengenai maknanya
adalah ungkapannya yang menyebutkan bahwa "media adalah pesan" (The medium is the Message). Melalui
ungkapan itu, McLuhan ingin menyatakan bahwa pesan yang disampaikan media
tidaklah lebih penting dari media atau saluran komunikasi yang digunakan pesan
untuk sampai kepada penerimanya. Dengan kata lain, ia ingin menjelaskan bahwa
media atau saluran komunikasi memiliki kekuatan dan memberikan pengaruhnya
kepada masyarakat, dan bukan isi pesannya. Orang yang chatting di Internet atau berkomunikasi melalui Facebook bisa jadi
tidak terlalu mementingkan isi pesan yang mereka terima atau isi pesan yang
akan mereka tulis tetapi kenyataan bahwa mereka menggunakan Internet atau
Facebook itulah yang penting.
Menurut McLuhan,
dalam menggunakan media orang cenderung mementingkan isi pesannya saja dan
orang seringkali tidak menyadari bahwa media yang menyampaikan pesan itu juga memengaruhi
kehidupannya. Menurutnya media membentuk dan memengaruhi pesan atau informasi yang
disampaikan. Suatu pesan yang disampaikan melalui radio memberikan pengaruh
berbeda jika pesan tersebut disampaikan melalui televisi. Televisi mampu
memberikan efek yang lebih dramatis kepada suatu peristiwa. Kita telah membahas
mengenai efek debat calon presiden AS antara John F Kennedy dan Richard Nixon.
Penonton TV mendukung Kennedy tetapi pendengar radio memenangkan Nixon.
McLuhan
tampaknya menggunakan ungkapan media adalah pesan khususnya kepada media
televisi. Peristiwa serangan teroris di New York atau Perang Teluk di Timur
Tengah membuat perhatian orang beralih ke televisi. Orang menunggu setiap
perkembangan terbaru di depan televisi. Namun orang hanya memperhatikan pesan
yang disampaikan dan tidak menyadari pentingnya televisi sebagai media atau
saluran.
Sumber:
Morissan. Teori
Komunikasi: Individu hingga Massa. Penerbit Prenada Media. 2015.
Morissan. Teori Komunikasi Massa. Penerbit Ghalia Indonesia, 2010
Modul kuliah Komunikasi Massa oleh Morissan. Fakultas Ilmu Komunikasi. Universitas Mercu Buana.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar