Sabtu, 10 Desember 2016

Marshall McLuhan Mengenai Media

Taukah anda apa itu Media ???????................... Yuk kita lihat :)
  
Media elektronik memperluas persepsi orang melampaui batas-batas tempat dimana mereka berada pada setiap saat sehingga menciptakan 'desa global' (global village). Pada saat bersamaan, sebagaimana media cetak, media elekronik mampu menyimpan informasi, dan karena sifatnya yang lebih cepat tersedia maka media elektronik dapat menciptakan 'ledakan informasi' (information explosion). Selain itu, terjadi persaingan diantara media memperebutkan perhatian audien agar melihat dan mendengar media tertentu. Informasi yang disampaikan media elektronik memiliki harga dan nilai komersial sehingga dijual seperti komoditi yang menciptakan tekanan bagi pemberi informasi untuk membuat informasi yang mampu menarik perhatian. Pengetahuan pada era elektronik berubah dengan sangat cepat, dan orang menjadi sadar terhadap berbagai versi kebenaran yang berbeda. Perubahan pengetahuan terus menerus yang diciptakan media elektronik membuat orang bingung dan tidak tenang. 
Jika pada era cetak, buku menjadi sumber informasi penting, maka pada era elektronik yang terjadi adalah desentralisasi informasi dimana individu sekarang telah menjadi salah satu sumber informasi utama. Media Internet yang menyediakan fasilitas seperti blog atau sarana jejaring sosial (Friendster, Facebook dll) yang isinya dikembangan oleh individu pengguna Internet itu sendiri (self-generated content) telah menjadikan individu sebagai sumber informasi utama. Hal ini mungkin tidak terbanyakan oleh kebanyakan orang pada tahun 1960-an, era ketika McLuhan pertama kali mengemukakan gagasannya mengenai hal ini.
Era elektronik telah membawa orang kembali bergantung pada cara ”berbicara” (talking) satu dengan lainnya sebagaimana era primitif. Namun dewasa ini kita mendefinisikan  ”berbicara” secara berbeda dengan pengertiannya pada era kesukuan. Menurut McLuhan, pada era elektronik, orang berbicara melalui televisi, radio, kaset rekaman, gambar foto, mesin penjawab, telepon, blog dan e-mail.
Jika era lisan menciptakan budaya komunitas, era tulisan menciptakan budaya kelas maka era elektronik menciptakan 'budaya sel' (culture of cells) yaitu adanya berbagai kelompok yang saling bersaing satu sama lain untuk membela kepentingannya. Pada era ini muncul jenis masyarakat atau publik yang tidak terikat dengan tempat. Muncul politik kepentingan namun muncul juga nilai-nilai demokrasi yang mengutamakan hak-hak masyarakat sipil khususnya upaya untuk mengelola perbedaan. Namun ironisnya, persaingan dan semangat ekonomi berbasiskan komoditi yang mengiringi perkembangan media elektronik harus bertempur dengan nilai-nilai lain yang muncul yaitu kesetaraan atau persamaan hak dan kepedulian terhadap sesama (civility and collegiality). Jadi, era elektronik menciptakan paradoks antara pemisahan karena adanya berbagai kelompok berbeda yang saling bersaing dengan kepentingan nilai-nilai demokrasi yang tercermin dalam prinsip kesetaraan dan kepedulian.
Era elektronik memungkinkan berbagai komunitas berbeda di dunia saling terhubung atau dapat berhubungan satu dengan lainnya yang kemudian menjadi konsep dari ’desa global’ (global village). Kehadiran teknologi elektronik telah menghilangkan  sekat atau dinding pemisah diantara manusia. McLuhan menggambarkan teknologi elektronik sbb:
  • Telepon : berbicara tanpa dinding
  • Fotografi : museum tanpa dinding
  • Cahaya : ruang tanpa dinding
  • Film, radio dan TV : ruang kelas tanpa dinding
  • Phonograph (alat pemutar lagu) : gedung pertunjukan musik tanpa dinding.

Jika seseorang menjadi anggota masyarakat budaya lisan maka perbedaan diantara individu menjadi sangat kecil, dan keputusan dibuat bersama-sama berdasarkan nilai-nilai tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam masyarakat dengan budaya tulisan, terlebih budaya cetak, keputusan yang diambil tergantung pada kebenaran yang tersimpan dalam berbagai dokumen, dan mereka yang memiliki akses kepada informasi akan memiliki pengaruh besar dalam masyarakat dan mereka menjadi anggota masyarakat dari kelas pengambil keputusan. Pada era elektronik, seseorang yang menjadi anggota budaya elektronik akan mengidentifikasi dirinya dengan satu atau beberapa kelompok kepentingan yang saling bersaing. Ia mendengar berbagai suara atau pandangan yang berbeda pada saat bersamaan, dan ia memiliki tantangan untuk mengintegrasikan berbagai perbedaan itu.   
Era elektronik memberikan peluang unik untuk mengevaluasi kembali bagaimana media memengaruhi masyarakat yang mereka layani. Era ini memungkinkan mata dan telinga serta suara bekerja secara bersama-sama. Melalui penjelasannya mengenai empat era atau epoch dalam sejarah media, ingin menunjukkan bahwa masing-masing era mendorong penggunaan indra tertentu yang dimiliki manusia, namun McLuhan juga menjelaskan bahwa apa yang dibutuhkan manusia adalah ‘rasio indra’ (ratio of the senses) yang merupakan dialektika dari berbagai indra. Manusia memerlukan rasio indra sebagai cara untuk beradaptasi dengan lingkungannya melalui keseimbangan indra. Misalnya, melalui Internet kita menggunakan berbagai indra termasuk indra visual ketika melihat gambar atau indra pendengaran ketika kita mengunduh lagu.
 
Media Panas & Dingin
McLuhan membagi media menjadi dua jenis yaitu 'media panas' (hot media) serta 'media dingin' (cool media). Media panas adalah media yang tidak menuntut perhatian besar dari pendengar, pembaca atau penonton (audien) media bersangkutan. Menurut McLuhan, media panas merupakan komunikasi definisi tinggi (high-definition communication) yang menyediakan data sensorik lengkap yang dapat diterima indra manusia; dalam menggunakan media ini audien tidak dituntut untuk mnggunakan daya imajinasinya, atau dengan kata lain sangat sedikit sekali daya imajinasi yang dibutuhkan. Dengan demikian, partisipasi audien dalam media panas sangatlah rendah karena makna dari informasi yang diterima audien sudah sangat lengkap dan jelas.
Film adalah salah satu contoh media panas. Ketika seseorang menonton film di bioskop, misalnya, ia hanya duduk, menonton film bahkan sambil makan atau minum, tidak ada upaya keras untuk menerima dan memahami informasi dari media tersebut. Media panas memberikan audien apa yang dibutuhkannya --dalam hal ini, hiburan.
Media dingin merupakan media definisi rendah yang membutuhkan partisipasi audien yang cukup besar, dengan kata lain media dingin merupakan komunikasi definisi rendah yang menuntut partsipasi aktif dari penonton, pendengar dan pembaca. Tidak banyak yang dapat diberikan media jenis ini kepada audien, dan audien harus memenuhi sendiri hal-hal yang tidak disediakan media dingin. Audien harus menciptakan makna melalui indranya dan secara imaginatif melibatkan dirinya.
Menurut McLuhan, percakapan tatap muka atau percakapan melalui telepon adalah contoh media dingin yang menuntut mereka yang terlibat untuk memberikan makna terhadap suara atau kata-kata yang diucapkan dan juga imajinasi visual ketika menggunakan media tersebut.
Selain film, McLuhan menggolongkan radio, buku, foto serta kuliah sebagai media panas sedangkan televisi, seminar dan film kartun sebagai media dingin. Bagi sebagian orang pembagian jenis media oleh McLuhan  ini cukup membingungkan, namun justru gagasan ini menjadi bagian penting dari teori tentang media yang diajukan McLuhan
Pandangan ini menimbulkan kontroversi di kalangan sarjana. Bagaimana mungkin beberapa media tersebut, misalnya televisi, digolongan sebagai media dingin, sedangkan radio dikategorikan sebagai media panas. Namun sebagian kalangan menilai hal ini disebabkan tingkat teknologi kala itu yang masih rendah. Selain itu, jika audien aktif menggunakan remote control ketika menonton televisi maka ia tengah terlibat dengan media dingin. McLuhan menggolongkan radio sebagai media panas karena kebanyakan orang menggunakan radio untuk mengiringi aktivitas lain.    
Untuk menjelaskan gagasannya mengenai media panas dan dingin ini, McLuhan mengambil contoh pada debat calon presiden AS pada tahun 1960 antara John F. Kennedy dan Richard Nixon. McLuhan menemukan bahwa audien yang menonton debat melalui televisi akan memenangkan Kennedy karena media tersebut mampu menunjukkan dengan baik karakter dan pesona yang dimilikinya. Sedangkan audien yang mengikuti debat melalui radio memenangkan Nixon karena media tersebut mampu menuntupi kelemahan Nixon yang mudah berkeringat.

Pemikiran McLuhan yang paling terkenal sekaligus yang paling banyak menimbulkan perdebatan mengenai maknanya adalah ungkapannya yang menyebutkan bahwa "media adalah pesan" (The medium is the Message). Melalui ungkapan itu, McLuhan ingin menyatakan bahwa pesan yang disampaikan media tidaklah lebih penting dari media atau saluran komunikasi yang digunakan pesan untuk sampai kepada penerimanya. Dengan kata lain, ia ingin menjelaskan bahwa media atau saluran komunikasi memiliki kekuatan dan memberikan pengaruhnya kepada masyarakat, dan bukan isi pesannya. Orang yang chatting di Internet atau berkomunikasi melalui Facebook bisa jadi tidak terlalu mementingkan isi pesan yang mereka terima atau isi pesan yang akan mereka tulis tetapi kenyataan bahwa mereka menggunakan Internet atau Facebook itulah yang penting.
Menurut McLuhan, dalam menggunakan media orang cenderung mementingkan isi pesannya saja dan orang seringkali tidak menyadari bahwa media yang menyampaikan pesan itu juga memengaruhi kehidupannya. Menurutnya media membentuk dan memengaruhi pesan atau informasi yang disampaikan. Suatu pesan yang disampaikan melalui radio memberikan pengaruh berbeda jika pesan tersebut disampaikan melalui televisi. Televisi mampu memberikan efek yang lebih dramatis kepada suatu peristiwa. Kita telah membahas mengenai efek debat calon presiden AS antara John F Kennedy dan Richard Nixon. Penonton TV mendukung Kennedy tetapi pendengar radio memenangkan Nixon.
McLuhan tampaknya menggunakan ungkapan media adalah pesan khususnya kepada media televisi. Peristiwa serangan teroris di New York atau Perang Teluk di Timur Tengah membuat perhatian orang beralih ke televisi. Orang menunggu setiap perkembangan terbaru di depan televisi. Namun orang hanya memperhatikan pesan yang disampaikan dan tidak menyadari pentingnya televisi sebagai media atau saluran.



Sumber:
Morissan. Teori Komunikasi: Individu hingga Massa. Penerbit Prenada Media. 2015.
Morissan. Teori Komunikasi Massa. Penerbit Ghalia Indonesia, 2010


Modul kuliah Komunikasi Massa oleh Morissan. Fakultas Ilmu Komunikasi. Universitas Mercu Buana.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar